trigonews.com Belajar ngeHackeR Dari Wikileaks

20 Mei 2011

Belajar ngeHackeR Dari Wikileaks

Posted on 11.29 by Unknown

Sejatinya bobolnya beberapa website pemerintah di tangan hacker harus menjadi pelajaran berharga. Setidaknya dapat membuat pemerintah serius untuk menjaga rahasia pemerintah tidak mudah diretas.

BEBERAPA situs pemerintah, seperti website resmi DPR dengan www.dpr.go.id, website kepolisian www.polri.go.id, dan terakhir situs Lemhannas yang beralamat di www.lemhannas.go.id. Pertanyannya, bagaimana jika terdapat data-data penting negara di-hack negara asing.

Tengak saja, kasus WikiLeaks pernah membuat heboh pada akhir Desember 2010. Situs pembocor dokumen rahasia Amerika Serikat tersebut merilis 842 dari 251.287 dokumen kawat diplomatik Kedutaan Besar AS dari seluruh dunia.

Data rahasia pemerintah AS tersebut dituangkan dalam situs WikiLeaks yang beralamat di WikiLeaks.de, kawat-kawat diplomatik yang berisi memo laporan rahasia ini bertanggal sejak 28 Desember 1966 hingga 28 Februari 2010.

Kawat diplomatik tersebut berasal dari 274 kantor perwakilan pemerintah Amerika Serikat baik Kedutaan Besar maupun Konsulat Jenderal. Dari sekitar 250.000 dokumen yang bocor, dokumen yang masuk kategori tidak rahasia berjumlah 1.510 buah.

Sisanya adalah dokumen rahasia dengan kategori confidential’ sebanyak 1.451 buah, dan dokumen yang masuk kategori secret sejumlah 98 dokumen. Dari dokumen yang dibocorkan WikiLeaks terungkap antara lain rencana pembunuhan Menteri Negara Bagian Guajarat, India Narendra Modi. Selain itu, bocoran WikiLeaks juga menyebut bahwa Rusia adalah korup, kleptokrasi otokrasi yang berpusat pada kepemimpinan Perdana Menteri, Vladimir Putin.

Tidak hanya itu, dari pandangan Amerika terhadap Presiden Rusia Dmitry Medvedev, yang bermain sebagai Robin dan Perdana Menteri Vladimir Putin sebagai Batman. Amerika juga menyebut Kuba dan Venezuela sebagai ‘Poros Setan’. Termasuk kawat rahasia tentang Indonesia yang menuding Presiden SBY melakukan penyalahgunaan kekuasaan.

WikiLeaks sendiri memiliki sebanyak 3.059 dokumen rahasia Amerika Serikat yang terkait Indonesia. Dokumen itu merupakan semacam laporan diplomatik yang dikirim dari Kedubes AS di Jakarta dan Konjen AS di Surabaya. Situs Wikileaks berjanji akan mempublikasi dokumen itu secara bertahap.

Dan ternyata Wikileaks mulai menepati janjinya. Tiga buah dokumen mengenai Indonesia sudah dirilis. Dokumen itu dibuat dalam bentuk
Congressional Research Service (CSR), lembaga think tank Kongres AS. Dokumen CRS ini biasanya menjadi dasar bagi Senat dan DPR AS dalam mengambil kebijakan. Berikut isi dokumen tersebut:

Masalah Timor Timur
CRS Report RS20332
East Timor Crisis: US Policy and Options

5 November 1999

*Pemerintahan Bill Clinton menekan RI agar menerima kehadiran pasukan perdamaian internasional di Timor Timur usai jajak pendapat 1999.
*Menghentikan kerja sama militer AS dan Indonesia dan mengancam sanksi lebih keras bila tak mau bekerja sama, mengendalikan milisi, dan memulangkan 200 ribu pengungsi Timor Timur.
*Mendukung keputusan IMF dan Bank Dunia menghentikan bantuan mereka untuk Indonesia.
* Bantuan yang dihapus untuk tahun 2000 antara lain bantuan ekonomi 75 juta dolar AS, Economic Support Funds 5 juta dolar AS dan IMET 400 ribu dolar

Tentang Pemilu 2004
CRS Report RS21874 Analyst in Southeast and South
Asian Affairs 20 Mei 2005
*SBY disebut the thinking general
*Bila Wiranto jadi presiden, hubungan RI dan AS akan sangat rumit karena Kongres AS menaruh perhatian besar pada isu pelanggaran HAM di Timor Timur.
*Suksesnya Pemilu 2004 meneguhkan dominasi partai sekuler, yaitu Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat.

Pelatihan Kopassus
Dokumen Joint Combined Exchange Training (JCET) and Human Rights Background and Issues for Congress
26 Januari 1999

*Sejak 1992, Kongres AS memutus program Pelatihan dan Pendidikan Militer In ternasional (IMET) untuk Indonesia setelah tragedi Santa Cruz.
* Namun, di bawah program JCET Dephan yang di setujui oleh Deplu, pasukan Baret Hijau AS melatih 60 anggota pasukan khusus TNI di Indonesia yang sebagian besar Kopassus. JCET berdalih pelatihan murni militer meskipun kurikulum latihan perang kota berjudul crowd control’.
*April 1998, anggota Kongres AS menyurati Menteri Pertahanan Cohen Evans yang menyebut program JCET mengakali larangan Kongres. JCET dihentikan 8 Mei 1998.

■ Indra Maliara

No Response to "Belajar ngeHackeR Dari Wikileaks"

Leave A Reply

Pengikut